Pendaftaran Santri Baru 2024

A. ALUR PENDAFTARAN SANTRI BARU 

  1. Pendaftar bersama orang tua/wali datang ke kantor Tata usaha menemui Panitia Pendaftaran.
  2. Mengisi formulir pendaftaran dan menyelesaikan administrasi.
  3. Peserta bersama orang tua atau wali sowan ke Ndalem Kyai didampingi panitia PSB.
  4. Penempatan Kamar.
  5. Tes KDII.
  6. Sosialisasi Kepesantrenan dan Kelembagaan.
  7. Sowan ndalem jam 15:00-17:30 wib
  8. Jam Operasional Yayasan 09.00-17.00 wib

B. KETENTUAN SANTRI 

  1. Beriman kepada Allah SWT
  2. Mendapatkan Izin dari Orangtua
  3. Tidak menghadapi masalah hukum
  4. Mengikuti program khidmah/ pengabdian
  5. Bersedia mengikuti tata-tertib pondok pesantren
  6. Bersedia mengikuti tes
  7. Diperbolehkan Melakukan perizinan pulang setelah 40 hari menetap di pondok
  8. Buka pendaftaran mulai April-31 Agustus 2024
  9. Waktu pendaftaran setiap hari – 09:00-12:00 dan 13:00-17:00

C. SYARAT PENDAFTARAN

  1. Fotocopy KTP (1 lembar)
  2. Fotocopy KK (1 lembar)
  3. Foto Background Merah 3×4 (3 lembar)
  4. Fotocopy Ijazah/NISN (1 lembar)
  5. Mengisi Formulir Pendaftaran 
  6. Menyelesaikan Administrasi
  7. Mengisi Surat Pernyataan (File Bisa di Diunduh di bawah ini)
    a. Surat Pernyataan Santri
    https://bit.ly/2AqAZu0
    b. Surat Pernyataan Wali Santri
    https://bit.ly/2UDi5qL
    c. Surat Pernyataan Pengabdian
    https://bit.ly/3dVQhpi

D. BIAYA PENDAFTARAN

  1. Santri Baru
    Biaya Administrasi Rp75.000
    Sarana Prasarana Rp350.000
    Infaq Rp800.000
    Syahriyah Rp150.000
    Registrasi KDII Rp100.000
    Perpustakaan Rp50.000
    KTS Rp15.000
    Kalender 2025 Rp30.000
    Kesehatan  Rp50.000
    Jaz Almamater Rp250.000
    Simpanan Wajib Koppontren Rp10.000
    Pembuatan Buku Doa Rp20.000
    Buku Biografi KH. Mahfud                     Rp100.000
    TOTAL Rp 2.000.000
  2. Santri Lama
    KDII Rp100.000
    Syahriyah Rp150.000
    Kalender          2025 Rp30.000
    Kesehatan Rp50.000
    TOTAL Rp330.000

E. BIAYA BULANAN

Syahriyah Pondok Rp150.000

Karya Seni Tuhan

Oleh: Alfhi Satul

Sumber: Pinterest

Aku, tidak berdebat
Sepenuhnya sependapat

Aku, bukan siapa
Hanya sebuah Karya
Sebuah karya seni yang dibentuk dan digerakkan oleh tangan dingin sang Maha Rahman

Aku, tidak keberatan
Tidak berdemonstrasi menentang kebijakan
Aku, tidak berdiri di jalan
Membakar ban
Dan berteriak meminta kebebasan

Aku, ini karya mu
Karya yang kau buat menjadi hebat
Karya yang mengaung dikeheningan
Karya yang meminta ampunan

Mohon ampunan wahai Dzat yang Rahman
Astaghfirullah
Astaghfirullah
Astaghfirullah

إيدي منجورا

sumber : doc. pribadi

إ) إبدء بالحمد الله الرحمن الرحيم
والصلاة والسلام على النبيّ العلم

ي) يَحِبُّنا على رسول الله محمد
رحمة العالمين وصحبه إتحد

د) دعا الشيخ إلى خيره بدعوته
وذهب الشيخ سعيد الى موته

ي) يبتهج شخص في قرن المؤسس
لانّه نظر أحوله كالشمس

م) مؤسس اسمه الحج محفوظ بن ردوان
و زوجة حجة نفسيه من الݣداغان

ن)نسألك يا ربّنا سلامة في اݣداغان
بعِد لنا عن الشيطان قرب لنا إلى الرحمن

ج)جسمه في لأرض ولنا ليس الغا فلين
من البركة ولنا من المحبين

و) وسلة لي ربنا بشيخ إمبه محفوظ ردوان
فصح على السان لقرأة القرأن

ر) ربنا إغفر ذنوب وسالم شيخنا
ودَالَّ أبوروح إلى حب ربنا

ا)أخر من الكلامنا بالحمدإلى ربنا
يا سمع دعنا ولا تقطع رجعنا

HARMONI MULTIKULTURAL: PERAN KHODIMUL UMMAH DALAM MENYATUKAN PERBEDAAN

Oleh: Guntur Wicaksono

sumber : pixabay.com

Indonesia, sebuah negara dengan berbagai suku, bangsa, dan budaya, dengan bermacam-macam keunikan dan keberagaman. Tentu menjadi hal yang tidak mudah menciptakan keharmonisan multikultural di Indonesia sehingga peran khodimul ummah menjadi sangat penting untuk menjembatani dalam usaha menciptakan keharmonisan.


Harmoni multikultural merujuk pada sebuah perbedaan yang hidup dalam kedamaian dan keselarasan. Kesadaran dan pemikiran yang terbuka akan mencipatakan sebuah keharmonisan dalam suatu bangsa. Untuk mencapai suatu keharmonisan multikultural, memerlukan seluruh aspek masyarakat yang ada untuk berperan dalam menciptakannya, diantaranya para pemimpin agama.


Sama dengan artinya, khodimul ummah merupakan pelayan umat. Pemimpin agama merupakan salah satu khodimul ummah yang memiliki kontribusi besar dalam memberikan pemahaman yang mendalam terhadap multikultural. Pemahaman ini penting guna memberikan wawasan yang baik tentang perbedaan yang ada dan membina kerukunan antarumat beragama.


Khodimul ummah bertanggung jawab untuk memberikan pendidikan dan membuka pemikiran kepada umatnya untuk selalu menghargai perbedaan. Dengan cara memberi pengajaran tentang nilai-nilai perilaku yang baik, bahwa kebudayaan dan agama lain yang ada di lingkungan sekitar tidak pernah mengajarkan suatu keburukan. Sehingga semua perbedaan ini bukanlah suatu ancaman, melainkan sebuah kekayaan kultural.


Dialog antaragama juga menjadi salah satu cara untuk membuka wawasan dan pemikiran. Khodimul ummah bisa menjadi perantara dalam memberikan wawasan tentang ilmu dalam kebudayaan dan agama lain. Dialog antaragama yang baik, akan memberikan sebuah keuntungan untuk memecahkan stereotip dan mengurangi ketegangan antar umat.


Khodimul ummah juga dapat melakukan pemberdayaan masyarakat, hal ini menjadi aspek penting untuk menciptakan harmoni kultural. Event dan kegiatan bersama dalam lintas agama akan memberikan pengenalan secara langsung dan ajang bertukar pikiran bagi masyarakat. Kegiatan bersama yang dilakukan oleh masyarakat dengan beragam budaya dan agama, akan menciptakan kerukunan dan kesatuan dalam menciptakan keharmonisan dalam masyarakat.


Dalam menyatukan perbedaan untuk menciptakan keharmonisan ini, tentu akan mendapat tantangan tersendiri. Seperti kelompok yang menolak adanya sebuah perubahan, atau kelompok yang menginginkan perpecahan antar umat. Akan menjadi sebuah hal penting untuk terus mengusahakan pendidikan dan wawasan yang baik akan perbedaan, untuk meminimalisir bentrok yang mungkin terjadi pada masyarakat di masa mendatang.


Di Indonesia, tokoh masyarakat yang menjadi khodimul ummah. Semua berperan dalam menjadikan Indonesia yang harmonis dengan caranya sendiri. Kita sendiri juga perlu untuk andil berperan, menciptakan perbedaan yang harmonis sebagai bentuk cinta kita terhadap bangsa Indonesia.


Harmoni kultural akan menjadi suatu aspek penting, bukan hanya untuk bangsa Indonesia, namun juga global. Khodimul ummah sebagai pemimpin dan juga pelayan umat, sangat berperan besar dalam menciptakan kedamaian dan kerukunan multikultural dengan berbagai cara, seperti pendidikan, dialog antaragama, maupun kegiatan bersama lintas agama. Khodimul ummah akan menjadi agen perubahan untuk menciptakan keharmonisan multikultural secara berkelanjutan.

Pemilu Yang Mencerdaskan, Tingkatkan Literasi

Oleh: Muhammad Jalaluddin Yusuf

sumber : Big Image Creator

Salatiga-Saat ini kita sedang berada di masa-masa pemilu, karena pada tahun ini tepatnya pada tanggal 14 Februari 2024 akan di adakan pilpres untuk masa jabatan 2024-2029. Tanda-tanda masa pemilu adalah banyaknya baliho di space-space kosong di ruang umum yang berisikan ajakan untuk memilih paslon tertentu, dan di masa ini akan ada banyak sekali orang-orang yang menjadi sensitif hanya karena berbeda pilihan.

Apapun yang anda kenakan akan menjadi perhatian, seperti warna baju,dan lain sebagainya. Bahkan pose foto memakai jari pun bisa menjadi anggapan bahwa anda mendukung salah satu paslon tertentu.


Di dalam masa pemilu jumlah polemik akan cenderung meningkat mulai dari ruang lingkup yang besar hingga ruang lingkup yang kecil, mulai dari tokoh politik seperti partai pendukung, hingga kalangan masyarakat. Konflik pun sangat mungkin terjadi, antara teman sekumpulan, suami dan istri, rekan kerja bahkan antara orang tua dan anak pun bisa terjadi hanya karena perbedaan paslon yang mereka pilih.


Hal-hal seperti itu adalah wajar terjadi karena dari hal-hal seperti itulah yang mewarnai demokrasi dan membuat demokrasi menjadi lebih indah, dan kita sebagai warga negara juga diberi kebebasan memilih. Namun satu hal yang harus diingat bahwa konflik yang terjadi masih dalam kategori wajar selama tidak sampai mengarah ke perpecahan, kekerasan,atau tindak aksi lain yang mengundang ke arah negatif. Tetapi pada kenyataanya, dalam hal menggunakan hak pilih masih banyak anak-anak muda yang tidak memaksimalkan hak pilih mereka, hal ini terjadi karena kurangnya literasi mereka, sehingga mereka jadi lebih mudah terperdaya oleh omongan-omongan di lingkungan mereka tanpa tahu kebenaran dari informasi tersebut.


Pemilu yang Mencerdaskan
Pemilu kali ini bisa dikatakan sebagai pemilu yang paling seru dan mencerdaskan. Hal ini tak lain dipengaruhi dengan pesatnya era digital yang membuat informasi menjadi mudah dan cepat untuk diakses. Banyaknya acara-acara seperti Desak Anies, Tabrak Prof, Gelar Tikar Ganjar, Slepet Imin, dan lainnya menjadi bukti informasi dapat berkembang pesat melalui teknologi . hal inilah yang dapat memberikan ruang bagi publik untuk bertanya langsung kepada paslon yang mencalonkan diri mengenai kebijakan apa yang akan mereka lakukan dalam menghadapi masalah tertentu.


Namun dengan akses informasi yang banyak dan mudah dijangkau tersebut, banyak anak muda yang masih kurang memaksimalkan hal itu. Banyak dari mereka yang termakan oleh video-video pendek di tik tok, atau gimmick dari paslon tertentu, dan mungkin hanya ikut-ikutan temanya dalam menentukan pilihan mereka, tanpa tahu apa visi misi dari paslon yang mereka dukung dan biografi mereka. Hal ini tentu sangat disayangkan karena hal ini menjadi tanda bahwa masih banyak anak muda di Indonesia yang memiliki budaya akademik atau literasi yang rendah sehingga dengan berbagai fasilitas yang luar biasa tersebut tidak di manfaatkan secara maksimal.


Terlepas dari hal-hal tersebut perbedaan pilihan adalah sebuah keindahan dalam demokrasi namun bukan berarti perbedaan menjadi penghalang dalam berdemokrasi atau merasa cukup atas “beda” yang “berdemokrasi”. Justru ini akan lebih indah apabila perbedaan pilihan tersebut didasari oleh pengetahuan yang cukup mengenai pilihan mereka dan tidak asal ikut-ikut orang lain.


Berbanding terbalik dengan perbedaan pilihan yang mewarnai demokrasi, ada hal yang penulis rasa cukup memprihatinkan, yakni mereka yang golput, karena tindakan golput ini sama saja mencederai demokrasi dan menunjukan bahwa mereka bersikap tak acuh terhadap masa depan bangsa ini, dan yang sangat di sayangkan adalah masih sering di jumpai di kalangan anak muda yang memilih untuk golput dengan alasan yang ber macam-macam, seperti malas, buang waktu, dan sebagainya. Padahal masa depan suatu bangsa berada di tangan anak-anak muda di bangsa tersebut.


Peningkatan Literasi
Mengacu dari Educational Development Center (EDC) literasi adalah sebuah kemampuan yang lebih dari sekedar membaca dan menulis, yang dimana literasi adalah kemampuan individu untuk menggunakan segenap potensi dan skill yang dimiliki dalam hidupnya. Jadi bisa dikatakan bahwa literasi adalah sebuah kemampuan individu dalam memecahkan suatu masalah dalam kehidupan sehari-hari.


Banyak hal yang bisa dilakukan untuk meningkatkan literasi. Namun yang paling efektif adalah mengenalkan budaya membaca sejak dini karena ketika seseorang membiasakan membaca maka akan membuat otak lebih cerdas dan memperkuat rasa ingin tahu.
Bagaimana kondisi masyarakat yang tengah menginjak usia remaja dan tidak bisa membedah fakta dari teknologi informasi yang diterima? Akan tetapi, tidak ada kata terlambat untuk menjadi lebih baik. Hal yang paling mudah dilakukan adalah kita bisa mulai dengan tidak asal percaya dengan video pendek dari fyp (for your page). Setiap kali mendapat informasi dari media sosial, setidaknya kita dapat mencari kredibilitas dari seliweran fyp. Hal yang bisa kita lakukan seperti membaca kolom komentar sebagai afirmasi atas kebenaran video, melakukan double check ke internet seperti google, atau bisa juga langsung bertanya pada ahlinya.


Literasi sangat penting bagi masyarakat suatu bangsa karena dapat menentukan masa depan bangsa itu sendiri. Sekali lagi penulis menyayangkan pada kenyataan yang sering terjadi di lapangan. Masih ditemukan masyarakat, terutama anak muda yang tidak bisa atau bahkan tidak mau beroperasi dan membuka pikiran mereka ketika sebuah fakta disodorkan dengan beragam aspek pilihan. Lebih parahnya lagi, sebagian dari mereka adalah kaum-kaum terpelajar yang tengah menduduki bangku kuliah. Tidak dapat dipungkiri atau bersifat merendahkan, justru penulis menemukan kasus seorang petani yang lebih melek pada kondisi politik dengan sangat baik dan objektif. Hal ini menunjukan bahwa untuk memiliki literasi yang baik bisa dimiliki oleh siapa saja dan kapan saja, dan pendidikan tinggi tidak menjamin kemampuan seseorang apabila ia tidak memaksimalkannya.


Lantas, akankah warga negara Indonesia akan terus seperti ini? Semoga tidak, dan harapan kedepannya seluruh masyarakat di Indonesia bisa menjadi lebih cerdas dan terbiasa akan budaya literasi guna memiliki masa depan yang cerah, cerdas lah dalam menentukan pilihan, semua pilihan bisa dikatakan benar selama ada alasan atau bahkan riset yang logis, bukan asal ikut-ikut dan fanatisme belaka, namun apabila ada yang terbaik kenapa tidak. Menuju Indonesia cerdas dan gemilang.

Instrospeksi Negeri dan Diri

Oleh: Iqbal fahrurozi

sumber : google web

Hai Indonesia ku
Hai negeriku tercinta
Musibah datang bertubi-tubi
Bencana datang silih berganti
Tiada henti menghantam negeri

Hai Indonesia ku
Hai negeriku tercinta
Maksiat apa yang kau perbuat
Dosa apa yang kau lakukan
Sehingga bencana datang bertubi-tubi
Menghantam kita punya negeri

Tanyakan juga kepada para pejabat di negeri ini
Hai para pejabat, maksiat apa yang kau perbuat
Sehingga bencana datang menghantam kaum punya rakyat

Tanyakan juga kepada ulama di negeri ini
Hai para ulama, maksiat apa yang selama ini kau biarkan
Yang selama ini kau diamkan
Yang selama ini tidak kau cegah
Sehingga mengundang bencana dari sisi Allah

Dan lebih utama dari itu, tanyakan kepada diri kita sendiri
Dosa apa yang sudah kita buat, dosa apa yang sudah kita lakukan
Tubu illallah taubatan nasuha
Mari kita bertaubat kembali kepada Allah, dengan sebenar-benarnya taubat
Mari kita memerdekakan republik ini dari maksiat

PRAYFOR

DEMAK, GROBOGAN & BANDUNG
Semarang 28 februari 2024

Monolog

sumber : pinterest

Oleh : Alfhi Satul

Bunyi rintik seirama dengan detik
Nyala-nyala lampu jalanan menerangi
Panggilan Tuhan pun menggema dimana-mana
Harus apa aku?

Tempat sujud mereka tak’ penuh
Manusia yang lain melalaikan itu
Lalu, Aku?
Sibuk dengan arak dan rokok

“Mengapa Tuhan tak menegur mereka dan aku?”Pikir ku

Manusia bebal, kau pikir Tuhan yang membutuhkan mu?
Tuhan tidak butuh kau..
Harusnya kau tak bernafas dengan menghirup udara darinya

Kembali lah sekali lagi
Tuhan terima mu lagi

Bacalah puisi-puisinya
Datangi lah rumah-rumahnya
Bermunajat
Mintalah ampunan dosamu
Tidakkah kau ingin mati cepat?

Menjadi Berbeda, Apel HSN 2023 Berlangsung di Tepi Pantai

Sumber : Pers EM

Pers EM-Apel Hari Santri Nasional (HSN) tahun ini berbeda dengan sebelumnya. Berada di Desa Kemantren, Kec. Paciran, Kab. Lamongan, Jawa Timur tepatnya di sebelah utara makam Syech Maulana Ishaq. Memberikan kesan yang mendalam dari beberapa santri, karena berada di luar lingkungan pesantren, Ahad (22/10/23).

Dr. K. H. Muhamad Hanif, M. Hum., dalam amanat apel menyampaikan bahwa, kegiatan upacara kali ini istimewa dan berbeda dari biasanya.

“Biasanya upacara di lapangan. Sekarang kita upacara di tepi pantai sembari berziarah di makam-makam para wali,” ungkap Kyai Hanif.

Janah (22), selaku Lurah Putri menjelaskan bahwa, berdasarkan rapat panitia dan keputusan pengasuh, ziarah yang dilakukan setiap dua tahun sekali diselenggarakan bersamaan dengan peringatan dan upacara HSN.

“Kegiatan ini kan 2 tahun sekali, kemarin berdasarkan keputusan pengasuh dan rapat panitia, HSN 2023 digabung sama ziarah,” jelasnya.

Thoriq (21), salah satu santri mengungkapkan upacara HSN menarik karena dilakukan saat ziarah berlangsung.

“Menarik, karena ada hal baru, ada inovasi yang dilakukan, yang biasanya di lingkungan pesantren, entah di halaman, atau lapangan pesantren, kali ini jadi menarik karena dilakukan bersamaan dengan ziarah dan dilakukan di pesisir, tepi laut,” ungkapnya.

Selaras dengan Thoriq, Iqbal (20) salah satu santri mengatakan, upacara kali ini berkesan karena ziarah dilaksanakan bertepatan dengan peringatan HSN.

“Sangatlah berkesan karena baru kali ini saya ikut ziarah di EM, dulu pernah ziarah Walisongo tapi tidak di EM, akan tetapi santri putri tidak boleh ikut, di EM santri putri diperbolehkan ikut, ya… menambahkan semangat dalam berziarah, walau cuaca lagi panas-panasnya, tetap is the best , dan menjadi tambah seru karena ada upacara di pinggir pantai,” kata Iqbal.

Peran santri yang disampaikan oleh Kyai Hanif dalam amanat saat apel HSN, terngiang dalam benak Thoriq.

“Satu hal yang menjadi kesan saat momentum apel adalah pesan dari Kyai Hanif, bahwa sebagai santri tentunya harus berjuang dan berkhidmat di masyarakat karena dari apa yang disampaikan beliau, perjuangan juga tidak mudah, dilakukan dengan sungguh-sungguh, apalagi ketika sudah di masyarakat harus dilakukan secara serius, beliau juga berpesan bahwa tanggung jawab masyarakat ada ditangan santri,” tambahnya.

Selain itu, Iqbal juga mengingat terkait pesan Kyai Hanif kepada santri EM untuk selalu siap memghadapi tantangan dari mana saja.

“Perkataan yg paling diingat yakni bahwa beliau berkata menjadi seorang santri harus selalu siap dengan segala hal maka dari itu dipersiapkan dari sekarang dengan dilatih dgn ikut organisasi seperti PMII dan lainnya. Beliau juga berkata lain bahwa santri banyak yg menjadi pejabat dan pemerintah bahkan dulu ada yg menjadi presiden RI, maka dari itu santri adalah generasi perubahan untuk Indonesia yg lebih maju dan jihad santri jaya kan negeri,” ujarnya.

Thoriq juga menyampaikan harapannya terkait peran santri dalam upacara kali ini.

“Harapannya apa yang sudah diamanatkan, tentu sebelum kita jauh di masyarakat, berjuang dan berkhidmat itu bisa dilakukan di pesantren, belajar dari sini. Mulai dari hal kecil, bersungguh-sungguh, setiap santri melakukan kegiatan dengan sungguh-sungguh, melakukan apa yang sudah menjadi peraturan dan kewajiban, kesungguhan itu bisa dijadikan landasan untuk berjuang dan berkhidmat saat ini, sebelum melangkah lebih jauh,” pungkasnya.

Desti/Editor

Ingkar

Sumber : Pinterest

-Wrd-

Sepertinya aku terlalu marah,

Pada kesempatan diberagam

sudut,

Batinku tersiksa

Memaksa agar terus mengingat

akan hal yang semestinya binasa

Bukan aku tak mau kalah

Namun, setengah sadar akan keharusan yang dibuat

Paskibra Edi Mancoro Menampilkan Srikandi Of Edi Mancoro Setelah 2 Tahun Vakum

Em Pers-Paskibra Pondok Pesantren Edi Mancoro berinovasi menampilkan Srikandi Of Edi Mancoro dalam Upacara HUT RI ke-78 , Kamis (17/08/23)

Srikandi Of Edi Mancoro merupakan buah pikiran dari panitia Hari Kemerdekaan dan Petugas Tata Upacara Bendera (TUB) guna menampilkan variasi Peraturan Baris Berbaris (PBB) oleh paskibra Edi Mancoro

Menurut Lilis Sholichah atau kerap disapa Lilis, salah seorang santri Edi Mancoro mengatakan, Srikandi Of Edi Mancoro aktif kembali setelah dua tahun tidak diadakan selama peringatan kemerdekaan di Edi Mancoro (EM) berlangsung.

“Dulu ada namanya mba Alya, aktif pas beliau disini, lulusnya tahun 2020 atau 2021 kalo ngga salah. Sekarang udah aktif lagi ada variasi PBB,” tuturnya.

Kendati demikian, variasi PBB yang dilakukan oleh paskibra EM telah mendapat sebutan Srikandi Of Edi Mancoro tahun ini.

“Mungkin sekarang penyebutan saja atas nama Srikandi,” tambahnya

Fitra Alfiati , salah satu anggota Srikandi mengatakan, latihan variasi PBB dan pelatihan PBB oleh anggota lain sudah dipersiapkan matang-matang sejak awal Bulan Juli lalu.

” Latihannya udah sekitar awal bulan Juli, bareng sama petugas TUB lainnya,” katanya.

Menurut Fitra, dengan latihan yang cukup melelahkan, Srikandi Of Edi Mancoro mendapat hasil yang memuaskan meskipun ada kesalahan teknis sementara.

” Menyenangkan, memuaskan, tapi pas mau mulai, anggota belum siap, jadi sedikit riuh,” tambahnya

Rana Afriliani Salma atau Rana, salah seorang santri Edi Mancoro berharap, eksistensi Srikandi Edi Mancoro dapat terlaksana setiap tahunnya dan bertahan pada konsistensi yang lebih baik.

“Mungkin bisa lebih lama, harapannya tahun depan ada lagi, pokoknya ada terus lah,” jelasnya

(Desti)

Rajutan Kisah Sang Pengemong dalam Bedah Buku ‘Jejak Ma’rifat K.H. Mahfud Ridwan’

HUJAN yang mengguyur Gedangan mulai reda, matahari sore kembali tampak sinarnya, para santri berduyun-duyun memadati aula utama Pondok Pesanteren Edi Mancoro.

Acara penutupan asramanisasi— posonan, dikemas berbeda dari tahun sebelumnya. Pada kesempatan kali ini mendatangkan Luqman Hakim, S.Ag yang menjabat sebagai anggota DPR RI sekaligus alumni pesantren, Pdt. Izak Lattu, Ph.D selaku Dekan Fakultas Teologi UKSW dan Ahmad Faidi, M.Hum selaku penulis buku.

Acara yang bertajuk Bedah Buku ‘Jejak Ma’rifat K.H. Mahfud Ridwan’ digelar di Aula Utama Pondok Pesantren Edi Mancoro bertepatan pada Rabu 21 Ramadhan 1444 H atau 12 April 2023 M. Sudah menjadi tradisi Pesantren Edi Mancoro, setelah tanggal 21 Ramadhan akan ada perpulangan santri, maka dari itu acara disambut dengan penuh antusias.

Momen yang ditunggu tiba, acara bedah buku dimulai, para santri tak sabar mendengarkan kisah-kisah heroik muassis pesantren semasa hidup yang belum pernah mereka jumpai. “Saya belum pernah sama sekali berjumpa langsung dengan almaghfurlah K.H Mahfud Ridwan,” seru Dimas Bayu selaku moderator ketika membuka acara.

Ahmad Faidi, penulis buku Jejak Ma’rifat K.H. Mahfud Ridwan mengawali presentasinya dengan menceritakan perjuangan Kiai Pengemong Masyarakat dengan penuh kenangan dan mendalam.

“Interaksi saya dengan Kiai Mahfud secara langsung sekitar 6 bulan, interaksi yang singkat tersebut membuat saya tidak tau apa-apa soal Kiai Mahfud, akan tetapi saya menemukan fakta di lapangan, banyak responden-respondon yang tidak bisa diwawancarai oleh temen-teman santri saat itu, karena ketika ditanya tentang sosok Kiai Mahfud mereka tidak bisa bercerita, yang ada hanya kucuran air mata,” kenang Faidi dari pengalamannya menyusun buku.

Perjalanan menulis buku biografi tersebut begitu berat bagi Faidi. “Saya pernah mau mengundurkan diri, karena saya tidak tau apa-apa soal Kiai Mahfud,” ujar Faidi dengan penuh tekanan. Hal tersebut dikarenakan Faidi tidak pernah berada dibawah asuhan Kiai Mahfud.

Satu langkah penuh keyakinan untuk melanjutkan buku tersebut diambil. “Alhamdulilah, mungkin inilah maksud Gusti Allah, saya tidak dipertemukan langsung dengan Kiai Mahfud agar saya nyantrinya belakangan saja,” ungkapnya dengan penuh keyakinan.

“Menulis biografi tersebut menjadi wasilah saya mondok di Edi Mancoro, seakan-akan saya langsung ngaji kitab dibawah arahan beliau, bukan hanya ngaji kitab seakan-akan saya diberi kesempatan untuk ngaji kehidupan dibawah tuntunan beliau, pertemuan 6 bulan memberikan pengalaman batin yang luar biasa bagi saya,” sambungnya.

Faidi juga memaparkan bahwa ajaran yang dibawa Kiai Mahfud adalah ajaran tentang cinta. “Beliau membawa agama cinta, tidak pernah mempertimbangkan dampak logis dari kebaikan, semua kalangan tak terkecuali mendapat pengayoman, tidak lagi ada pertimbangan rasional dalam berjuang di jalan cinta,” pungkas penulis buku biografi.

Ruangan mendadak hening, kenangan tentang sosok Kiai Pengemong Masyarakat memenuhi ruang-ruang imajiner para santri. Imajinasi mereka dibawa pada ruang dan waktu yang belum pernah dijumpai, akan tetapi merasa begitu dekat. “Kang ada tisu nggak?”, tanya seorang santri yang matanya mulai berkaca-kaca.

Izak Lattu seorang akademisi, pendeta dan pegiat lintas iman, mendapat giliran untuk membedah buku biografi. Berbeda dengan Faidi, Izak Lattu sudah lama berkenalan dengan Kiai Mahfud. Awal mula perjumpaan keduanya ketika Izak Lattu menjadi wartawan di Post Kita. “Saya banyak belajar dari Kiai Mahfud ketika saya menjadi wartawan, karena saya sering wawancara beliau,” kenang Izak Lattu.

Izak Lattu banyak memaparkan tentang aspek akademis dan lintas iman dari sosok Kiai Mahfud. Sebagai seorang wartawan, momen paling tidak terlupakan ketika Izak mewawancarai Kiai Mahfud saat kedatangan Gus Dur di Gedangan.

“Gus Dur kesini (red: Ponpes Edi Mancoro) pada tahun 2000 saat menjabat sebagai presiden, saat itu banyak orang yang bertanya, ada apa dengan Gedangan kok Gus Dur sampai datang kesana, ketika saya mewawancarai Kiai Mahfud, ternyata Gus Dur sahabat Kiai Mahfud ketika belajar di Baghdad,” ungkapnya dari pengalaman 23 tahun yang lalu.

Kiai Mahfud dan Gus Dur merupakan sahabat seperjuangan dalam belajar di Baghdad. “Setelah Kiai Mahfud belajar dari Mekah dan Gus Dur dari Al Azhar, mereka bertemu di Baghdad untuk menimba ilmu. Saat itu, Baghdad menjadi pusat pertemuan filsafat, membangun Al- Quran disatu sisi dan filsafat barat disisi yang lain, yang membentuk sosialisme Islam,” jelas Izak Lattu dengan penuh semangat.

Tak ayal pemikiran yang dibawa Kiai Mahfud tentang kebebasan yang kemudian beliau praktekkan dalam wujud tindakan. “Sejak kuliah sampai dengan akhir hayatnya, pikiran beliau melampaui ruang-ruang sosial dan tidak parokial— tidak pada satu komunitas tertentu,” papar Izak.

Menurut Izak Lattu, kebebasan beragama menjadi salah satu isu yang mendapat perhatian khusus dari Kiai Mahfud. “Forum Gedangan menjadi contoh keseriusan Kiai Mahfud dalam meletakkan pondasi penting penyeimbang relasi sosial lintas iman di Salatiga,” terangnya kepada para santri.

Bahkan menurut Izak Lattu, Forum Gedangan menjadi salah satu forum pelopor di Indonesia yang mencoba membangun relasi lintas iman. “Sebelum adanya isu moderasi, relasi lintas iman sudah dipraktekkan sejak dulu oleh Kiai Mahfud, beliau adalah orang yang berintegritas tinggi, memberikan konsep tidak hanya dalam pikiran tetapi juga dalam wujud tindakan,” pungkas Dekan Teologi UKSW disambut gemuruh tepuk tangan para santri.

Hujan benar-benar reda saat pembicara ketiga mulai membedah buku, para santri kembali menyimak dengan serius, karena yang menjadi pembedah yang akhir ini adalah alumni pesantren. Luqman Hakim menjadi politisi PKB yang sekarang duduk di kursi DPR RI dulunya merupakan santri Kiai Mahfud.

Awal mula nyantri di Gedaangan, Luqman terkejut dengan sikap Kiai Mahfud yang begitu tawadhu’. “Pengalaman hari pertama nyantri, saya melihat Kiai Mahfud bersih-bersih kebun salak di pagi hari sendirian dan tidak menyuruh santri, ketika saya bertanya pada senior pesantren, hal tersebut biasa beliau lakukan,” kenangnya dari pengalaman tersebut.

Pengalaman itulah yang membuat Luqman mengangkat Kiai Mahfud sebagai guru spiritualnya sampai sekarang. Kiai Pengemong Masyarakat tersebut punya integritas yang tinggi, aku Luqman, sejalannya pikiran, ucapan dan perbuatan serta dilandasi dengan keikhlasan.

“Pernah beliau cerita kepada saya, didatangi seseorang mau dikasih mobil, nggak diterima, waktu itu saya tanya, kenapa pak nggak diterima, jawabnya ‘alah man mobil ki nggo opo, nek ndue malah gak penak, mikir pajek, mikir perawatan, seng penting awake dewe yen butuh ono man’ itu jawaban beliau,” ungkap Luqman.

Menurut pengakuan Luqman, dalam kerja-kerja sosial, Kiai Mahfud pernah diperintah Gus Dur untuk membuat forum kiai-kiai se-Indonesia. “Saya memberanikan diri bertanya pada Kiai Mahfud soal pendanaan forum tersebut, jawabnya ‘tenang man masih ada sawah nanti dijual untuk kegiatan’ itu jawaban beliau,” kisah Luqman kepada para santri.

Kiai Mahfud merupakan putra dari tuan tanah di Pulutan, warisannya banyak dalam bentuk tanah, akan tetapi banyak berkurang karena untuk membiayai kegiatan sosial kemasyarakatan. “Untuk kegiatan yang konteksnya maslahat untuk umat, lalu beliau tunjuk sawahnya yang masih ada untuk pembiayaan kegiatan, menurut beliau hal tersebut sebagai bentuk pengabdian pada Allah, pengabdian pada Islam, pengabdian pada masyarakat, pengabdian pada NU,” jelas Luqman yang nyantri di Gedangan sejak 1992.

Pendiri Pesantren Edi Mancoro menjadi sahabat dekat Gus Dur di Baghdad saat itu, Luqman punya kisahnya. “Saya pernah mendapat cerita dari Kiai Mahfud, dulu ibunya Gus Dur kalo ngirim uang diserahkan pada Kiai Mahfud, Gus Dur kalo butuh uang tinggal minta pada Kiai Mahfud,” terang Luqman.

Sambil menirukan Kiai Mahfud Luqman melanjutkan “Gus Dur dulu mintanya ke Kiai Mahfud ‘kang njaluk duwite arep tuku buku, kang njaluk duwite arep jajan, lho man, tapi mas Dur gak penah takon duite ijeh pora’ itu menggambarkan kedekatan mereka berdua,” sambungnya.

Anggota DPR RI tersebut juga menceritakan perjalanan Kiai Mahfud dalam kancah politik, dimana Kiai Mahfud pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Semarang dari tahun 1977-1982, akan tetapi beliau mengundurkan diri. “Beliau tidak melanjutkan karena tidak adanya integritas dalam DPRD, ucapan dan perbuatan tidak sejalan, dari situ Kiai Mahfud memilih untuk mengundurkan diri,” papar Luqman.

Selain menjadi anggota DPRD Kabupaten Semarang, Kiai Mahfud juga berkontribusi untuk lahirnya partai PKB. Kiai yang juga disebut Sang Pengemong tersebut ikut serta dalam perintisan embrio PKB yang dimulai pasca orde baru tumbang.

“Kiai Mahfud pernah ikut mempelopori cikal bakal perintisan PKB di Tegalrejo, beliau salah satu yang ikut merintis PKB dari awal, walaupun selanjutnya beliau tidak duduk dikepengurusan, karena beliau sadar ada kebutuhan lain yang lebih penting, Kiai Mahfud mengajari bahwa politik juga penting walau tidak memimpin,” terang Luqman.

Sebagai alumni yang pernah menimba ilmu langsung pada Kiai Mahfud, Luqman Hakim berpesan kepada para santri agar selalu mengingat sejarah perjuangan muassis pesantren. “Menggali sejarah kehidupan beliau menurut saya akan sangat bermanfaat. Apapun jalan hidup yang kalian pilih, pasti ada sisi Kiai Mahfud yang dapat dijadikan pedoman karena beliau merupakan tauladan paripurna,” pungkas Luqman Hakim, alumni Pesantren Edi Mancoro.

Gemuruh tepuk tangan begitu riuh memenuhi aula pesantren. Kegiatan bedah buku usai dengan penuh makna bagi para santri. Kisah-kisah dari Sang Pengemong akan dikenang sebagai refleksi kehidupan. Kegiatan ditutup, disambut rintik hujan yang kembali mengguyur Gedangan, mengguyur Pesantren Edi Mancoro. (Thoriq)